I Remember Something
About Differents;
Are made for.
(Mensyukuri nilai nilai
perbedaan)
Telah pernah kutulis hal hal untuk menjembatani perbedaan, dan
cara memahami nilai nilai perbedaan itu untuk kemaslahatan umat, tapi belum
pernah sekalipun kushare ke public.
Someday, I wish I can.
Sudahlah, doakan aja potongan potongan kertas di kotak makananku
ini cepat habis. Setelah itu aku merasa lebih siap melanjutkan misi lainnya, yang salah
satunya adalah merevisi tulisan tulisan yang ada & menyebarkannya---in many
different ways.
Sekarang ini, aku sedang ingin menulis lagi tentang perbedaan,
dengan cara yang berbeda, Bismillahirrohmanirrohiim.
Different.
Dari dulu laki laki dan perempuan itu berbeda, sama seperti pagi
dan malam. Berbeda
kan?
Tapi selalu bekerja bergantian, itu makanya adam
dan hawa tak bisa dipisahkan sebagaimana manusia diciptakan dari tanggung jawab
bekerja untuk Allah, untuk rahmatan lil’alamin. Dari dulu barat dan timur juga
berbeda. Segala produktifitas musim yang dihasilkan sampai efek efek dari hasil
bumiNya; tapi mereka selalu tak bisa dipisahkan, sambung menyambung
mengkomunikasikan perbedaan dan ketertarikan yang disadari & tidak
disadarinya. Menyeimbangkan segala kebutuhan dan Sambung menyambung
mengkontribusikan kelebihan dan kekurangan dengan suara dan cara yang beraneka
ragam; itu ciri khas barat dan timur, selalu menciptakan pelangi. Dan pemiliknya, tak lain adalah Tuhan semesta
Alam. Allah yang Esa.
Different.
Perbedaan itu menurutku adalah persamaan. Tidak akan ada persamaan
jika tidak ada perbedaan. Kalau bahasa dia—calon suamiku insyaAllah---perbedaan
itu ada guna mencapai persamaan. Begitu kurang lebih dengan bahasa yang lebih
detail dan sedikit lebih panjang dari yang kuingat saat ini. Tapi, jika ada
yang bertanya, “maksud lo apa sih?”
Aku akan mencoba menjelaskan---semampuku.
Perbedaan itu adalah ketidaksamaan; kata logika. A yang berbeda
dengan B, c, f, Z. dan sebaliknya. Tapi sebenarnya, Perbedaan ada karna
persamaan kita tentang satu hal: Kebutuhan. Butuh makanan, butuh perhatian dan
kasih sayang, butuh udara, butuh senyuman, butuh lingkungan yang kondusif,
butuh kebersihan, butuh air, butuh pada Alam semesta, butuh pada pencipta
seluruh Makhluk, Allah.
Dengan adanya perbedaan warna kulit, ciri khas, perbedaan
kemampuan, cara berfikir, keinginan, perbedaan penghasilan keuangan perbulan,
perbedaan mimpi, kemampuan, kebutuhan, perbedaan latar belakang pendidikan,
perbedaan latar belakang lingkungan, perbedaan apa saja yang ada dan akan terus
bertumbuh secara dinamis sebagaimana manusia dan alam yang selalu bertumbuh
dinamis disertai adanya kebutuhan yang beraneka ragam namun sebenarnya sama
saja, semuanya akan tercukupi melalui komunikasi.
Baik itu komunikasi dengan sang Pencipta, Allah, juga komunikasi
sesama manusia. Dari sini, jika sedikit
saja seluruh manusia di bumi ini mampu untuk lebih banyak memikirkan orang
lain, lebih banyak memberi tanpa diminta, lebih banyak bersyukur, lebih banyak
berlapang hati, lebih banyak membantu tanpa diminta, lebih banyak
bersosialisasi, lebih banyak berinteraksi dengan ketulusan hati, lebih banyak
meluangkan waktu untuk mendengarkan kebutuhan orang lain, lebih banyak memberi
dan memberi, tentu kedamaian dan keseimbangan dunia akan tercipta. Tapi sayang,
telah banyak yang melupakan esensi keberadaan diri nya di Alam semesta milik
Nya.
Tanpa adanya perbedaan, tidak akan ada komunikasi yang menimbulkan
gesekan gesekan berirama dengan berbagai variable sesuai kehendakNya. Marilah
mulai untuk menciptaka gesekan yang bermanfaat, bukan gesekan yang menyakiti.
Different.
Dengan adanya perbedaan, otak kita terstimulasi untuk berfikir
secara natural. Berfikir ada apa dengan dia, kenapa benda ini seperti ini, dari
mana arah suara cempreng yang terdengar, dan sebagainya. Lalu, untuk apa
perbedaan itu tercipta? Untuk membantu kita agar tidak bosan hidup didunia ini,
karna kita diciptakan sepaket dengan nafsu dan bejibun kebutuhan untuk
dicukupi.
Untuk apa perbedaan itu tercipta? Untuk membantu kita saling
melengkapi, saling bantu membantu berbuat kebaikan untuk banyak orang, membantu
kita saling menginspirasi. Sehingga, salah total jika ada yang berfikir,
semakin focus untuk memikirkan kebaikan dan progress masa depan bagi diri
sendiri, hidup kita akan semakin baik. Itu tidak salah, sebagaimana saya tidak
ingin menyalahkan prinsip dan keyakinan orang lain, tapi, juga tidak sepenuhnya
benar, karna apa, semakin banyak yang memiliki pola fikir yang sama seperti
itu, maka, akan terciptalah masyarakat yang berlandaskan: egosentris, bukan
humanity bukan menjadi manusia melainkan…. ********.
Bukan manusia yg seharusnya mampu memanusiakan orang lain, namun
manusia yang hanya memikirkan kebutuhan diri. Dan terus menerus berjuang
memikirkan dan mendapatkan kepentingan dan kebutuhan diri pribadi saja, bagai
mengorek hasil bumi tanpa kepuasan yg hakiki.
Tapi tentu saja, keyakinan saya ini, cara berfikir saya yang
seperti ini, tidak bisa saya paksakan kepada orang lain. Karna setiap kita
memiliki hak masing masing untuk menentukan fikiran apa yang akan mendominasi
sikap dan tindakan kita dihari ini dan hari hari selanjutnya, hanya saja, saya
ingin mengingatkan bahwa, sebaik baik makhluk adalah yang bermanfaat bagi orang
lain.
Dan sebaik baik manfaat adalah, jika bisa membuat orang lain
menjadi tenang dan lebih baik. Sederhananya adalah, jangan membuat rusuh
keadaan hati dan kestabilan kehidupan seseorang, jika kita tidak bisa—meski
sedikit saja---berbuat kebaikan bagi orang lain, setidaknya, tidak memperumit
kehidupan orang lain. Yah, begitulah. Semoga kita diberi kemampuan dalam
mengharmonisasikan fikiran hati dan tindakan diri.
Different.
Perbedaan itu adanya untuk disyukuri, dengan disyukuri kemampuan berfikir jernih menjadi lebih baik.
Sehingga, aktivitas menjadi lebih bermakna lagi. Jika sudah bermakna, itulah
yang bisa dikatakan mendapatkan keberkahan. Semoga, hari hari kita selalu diisi
dengan Alquran dan Hadist. Amin ya Rabbal’alamiin….
Dalam
Keterpaksaan untuk menulis..
I
remember something…
9
Desember 2012, Sunday morning.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar